Saturday, 13 March 2010

Hachiko: A Dog's Story

Awalnya gw tau kalo film ini bagus adalah dari promosi mulut-ke-mulut *halah. Dan akhirnya hari Kamis kemarin setelah ada humas net di FIB, langsung lah gw meluncur ke kober buat hunting dvdnya. Alhamdulillah di lapak dvd langganan gw tersedia dvdnya. Baiklah, gak usah panjang-lebar lagi introduksinya, here's the review

Sutradara : Lasse Hallström
Pemain : Richard Gere & Joan Allen
Genre : Drama keluarga
Produksi : Inferno Production

Kisah Hachiko: A Dog’s Story bermula dari pengiriman seekor anjing berjenis Akita Inu ke sebuah kota kecil, Bristol, di Rhode Island, Amerika Serikat. Anjing kecil tersebut berasal dari daerah Odate, Jepang. Sesampainya di stasiun kereta, paket tersebut terjatuh, dan anjing yang berada di dalamnya keluar serta berkeliaran di sekeliling stasiun.

Profesor Parker Wilson, yang diperankan Richard Gere, menemukan anjing tersebut dan membawanya ke rumah. Namun, sang istri, Cate Wilson (Joan Allen), menolak kehadiran anjing tersebut. Andy Wilson (Sarah Roumer) putri Prof. Parker juga akrab dengan anjing kecil itu. Cate pada mulanya tidak begitu senang dengan hadirnya Hachi namun seiring waktu dan suatu kejadian akhirnya dapat menerima Hachi untuk ada di rumah mereka. Ken (Cary Hiroyuki Tagawa), rekan Prof. Parker yang berasal dari Jepang, membaca huruf kanji di kalung yang ada di leher anjing kecil itu dan memberi nama Hachi.

Hachi sudah menjadi besar dan tampak bersemangat. Suatu pagi saat Prof. Parker berangkat kekampusnya dengan naik kereta api, Hachi tiba-tiba melarikan diri dari kandangnya dan berniat untuk mengantar Prof. Parker sampai ke stasiun, pertama hal ini cukup merepotkan Prof. Parker namun akhirnya Hachi diijinkan untuk menemani Prof. Parker ke stasiun setiap pagi. Dan saat sore hari saat Hachi mendengar suara kereta api, Hachi segera berlari menuju stasiun terus duduk manis di bundaran depan pintu masuk stasiun untuk meyambut kedatangan tuannya.

Hingga suatu hari saat Prof Parker mau berangkat bekerja, ada yang tak biasa ditunjukkan oleh Hachiko. Hachi tampak ogah-ogahan mengantar Prof. Parker ke stasiun pagi itu. Hachi merasa ada sesuatu hal buruk akan terjadi. Sesampainya di stasiun, seperti biasa Hachi segera disuruh pulang oleh Prof. Parker dan disinilah akhir perjumpaan Hachi dengan tuannya. Prof. Parker tiba-tiba meninggal saat memberikan kuliah di depan mahasiswanya. Hachi sore itu kembali menunggu Prof. Parker keluar dari pintu masuk stasiun, namun hingga malam hari Prof. Parker tak kunjung datang.

Keesokan harinya Hachi tetap setia menunggu sang majikan. Setiap jam 5 sore, Hachi selalu duduk di depan pintu stasiun dan menunggu kapan Prof. Parker kembali, malam harinya tidur dibawah lokomotif tua. Musim salju, semi, panas dan gugur dilalui Hachi dengan setia menunggu hingga 9 tahun lamanya. Hal ini menarik seorang jurnalis untuk mengangkat artikel tentang Hachi dan memuatnya di sebuah surat kabar. Di akhir film diperlihatkan Hachi kelelahan lalu tertidur dan bermimpi kembali mengenang semua tentang Prof. Parker dan bertemu kembali dengan Prof. Parker.

Sebuah remake film Jepang berjudul Hachiko Monogatari yang juga adalah kisah nyata dari kesetiaan seekor anjing di daerah Shibuya, Tokyo, Jepang. Dalam kisah nyata, pemilik Hachi bernama Hidesaburo Ueno, seorang profesor yang mengajar di Tokyo University.

Hachiko di dunia nyata

Karena kesetiaannya itu, Hachiko pun mendapatkan kehormatan diabadikan dalam bentuk patung perunggu. Patung tersebut dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 dan ditempatkan di lokasi tempat dia sering menunggu tuannya, yaitu sebuah taman kecil berbentuk lingkaran di depan Stasiun Shibuya, Tokyo.
Patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya, Tokyo

Fyi, gw banjir air mata pas nonton film ini. Gila, seekor anjing aja bisa setia banget sama majikannya walaupun majikannya udah meninggal dan dia tetep menunggu di tempat yang sama selama 9 tahun!!!. Hmmm, manusia bisa segitu setianya gak yah sama orang lain? hohoho... Anyway, walaupun alur ceritanya terasa lambat, tapi intinya, film ini top recommended banget deh buat orang-orang yang lagi pengen nangis *loh? hehe
Happy watching!!!

1 comments:

gaohui said...

Bali is another organization that ed hardy Hats are known for their functional yet ed hardy Caps beautiful bras. Founded by Sara ed hardy Hats Stein in 1927.The Wonderbra manufactured by buy ed hardy the Sara Lee Corporation, is a push-up bra that was a sensation during its time. It was a big Ed Hardy Sale success and drew enormous amounts of interest. It was designed to Ed Hardy Swimwear make the bust appear larger, thus enhancing a Ed Hardy Swimwear womans cleavage.Here are more resource articles on cheap plus ed hardy swimsuits size evening gowns and plus size clothing for women.

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: :o: :p: :q: :r: :s: :t: :u: :v: :w: :x: :y: :z:

Post a Comment